Thursday, 15 March 2012

GERAKAN GANDRUNG TATANGKALAN (RAKGANTANG )

Naskah Biantara Pinunjul 2 Tingkat SMP
Alpukah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Taun 2008.

Ku: Rudi Rinaldi
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh…
Girang Pangajén kalih hadirin sadaya nu dipihormat,
Langkung ti payun sumangga urang sanggakeun sagala puji ka Dzat Illahi Robbi, sagala puja ka Alloh Azza Wajjalla, réhna dina danget ayeuna urang tiasa patepung lawung paamprok jonghok dina kaayaan séhat wal’afiat.
Teu hilap solawat miwah salam mugia salalawasna disanggakeun ka jungjungan urang sadaya, Nabi Muhammad SAW.
Girang Pangajén kalih hadirin sadaya nu dipihormat,
Simkuring neda widi sateuacan ngadugikeun jejer biantara, nepangkeun wasta pun Rudi Rinaldi wawakil ti SMP Negeri 4 Darangdan, SMP nu kawilang resik tur ayana di patempatan nu kalintang éndahna nya éta di Desa Pasirangin, désa nu di lingkung ku gunung, disimbut ku halimun, matak betah matak nineung.
Dupi jejer biantara nu badé didugikeun ayeuna, nya éta Gerakan Gandrung Tatangkalan anu disingget Rakgantang.
Sakumaha nu parantos kauninga ku sadayana, dina danget ayeuna kaayaan lingkungan hirup urang parantos kalintang reksakna. Tatangkalan dibukbak, leuweung digalaksak, huluwotan cai paburantak atuh seueur jalmi nu balangsak balukar salah talajak!
Badé kumaha upami parantos kieu? Naha badé diantep waé?
Deudeuh teuing leuweung kahirupan. Nu sakedahna méré kahuripan, lain kasangsaraan! Mana ayeuna nu disebut leuweung geledegan? Mana leuweung ganggong sima gonggong? Nu aya kari gunung nu gundul – pasir nu bulistir! Usum hujan pahibut urug jeung caah; usum halodo taneuh bareulah. Patani ngangluh, aki pangebon humandeuar! Ladang tani tinggal daki da hasilna teu nyukupan keur kahirupan!
Matak ngangres puguh ogé! Ngabandungan jalma-jalma cowong patinggorowok: “Piara leuweung…, raksa tatangkalan…., riksa pepelakan!” Kanyataanana? Ukur lalambé dina biwir wungkul!

Pidato perpisahan SMP Islam Al-Azhar Syifa budi Cibinong

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Yth. Bapak kepala YPI Al azhar syifabudi / yang MewakiliNya, yang kami hormati Bapak Guru  SMP Alazhar syifabudi Cibinong, yang kami hormati Komite Sekolah, Bapak-bapak dan Ibu-ibu guru,  Staff TU, Para tamu Undangan, serta siswa-siswi SMP Al-azhar syifabudi Cibinong yang saya Sayangi

Pertama tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa karena pada hari yang cerah ini kita semua dapat berkumpul  dalam keadaan sehat wal afiat “Untuk memeriahkan acara Perpisahan Murid SMP Islam Al-azhar Sifa Budi Angkatan 2011-2012″.

Kedua, saya atas nama perwakilan kelas dan ketua osis ( ketua pelaksana ) mengucapkan terima kasih kepada Bapak kepala sekolah, Bapak/Ibu guru yang telah menyumbangkan tenaga, pikiran tanpa mengenal waktu dalam membimbing dan memberi arahan guna terlaksananya acara ini, dan saya  berterima kasih kepada panitia yang telah mengizinkan saya untuk berdiri di sini menyampaikan salam perpisahan ini di depan para hadirin sekalian.

Ketiga, setelah hari ini kakak-kakak kelas 9 akan mengetahui hasil yang di peroleh dan yang ditunggu-tunggu selama ini, yaitu kelulusan / lulus tidaknya kakak dalam mengikuti Ujian Yang Diadakan kemaren, dan mungkin cekarang kakak-kakak kelas 9 bisa dianggap bukan anak SMP lagi ! ya tidak ? karena mungkin kakak-kakak kelas 9 yang ada disini Lulus Semua ( Amin ) !!! kakak-kakak kelas 9 akan meninggalkan sekolah ini.. dan kita semua akan berpisah. Berbicara tentang Perpisahan .. Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan . Kebanyakan dari kita pasti baru bertemu dan berteman akrab saat bersekolah di sini. Atau mungkin juga ada yang sudah berteman sejak SD atau bahkan sejak masih balita. Alangkah senangnya apabila pertemanan yang telah kita jalin selama tiga tahun ini dapat bertahan selamanya. Seakan tak tergoyahkan oleh apapun tak  tergantikan dan tak lekang termakan oleh waktu.

Namun tak dapat kita ingkari bahwa seiring dengan berjalannya kehidupan kita, seiring dengan datangnya hal-hal baru seperti SMA, kuliah, ngekos, kerja, menikah, dan juga seiring dengan datangnya orang-orang baru, teman baru, cowok baru, cewek baru, perpisahan memang hal yang lumrah terjadi.

Mungkin di antara kita ada yang merasa bergairah mengalami perpisahan karena yang ia tunggu selama ini adalah hal-hal baru yang terlihat lebih menyenangkan dibanding hal-hal di sini yang sangat membosankan. Tapi mungkin di sisi yang berbeda, ada yang merasa sangat sedih karena telah mengalami banyak hal menyenangkan di sini dan betapa banyaknya kenangan yang telah tercipta..

Kenangan.. Teman-teman dan kakak-kakak kelas 9 yang saya cintai, sebelum kita terlambat menyadari bahwa waktu tak dapat diputar kembali dan sebelum kita menyesal karena telah menyia-nyiakan masa SMP kita tanpa mengalami satu pun hal berharga. Maka buatlah kenangan sebanyak banyaknya! Lakukanlah apa yang ingin kita lakukan. Katakanlah apa yang ingin kita katakan. Katakanlah kepada guru yang terlalu kaku dalam mengajar untuk lebih santai. Katakanlah kepada cewe-cewe berisik yang ngerasa sok cantik dan populer kalau otak tuh lebih penting dibanding penampilan! Katakanlah kepada cowo cupu di sekolah untuk lebih percaya diri. Katakanlah kepada orang yang kamu cintai bahwa k memang mencintainya!! It’s NOW or NEVER, friends! Come On! As time goes by, memory remains. Seiring berjalannya waktu, hanya kenanganlah yang tersisa.

Keempat, khusus untuk kakak-kakakku kelas 9 yang tercinta, teriring doa kami semoga kakak-kakak lulus dan dapat melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi dan diberi kesuksesan dalam segala hal ( Amin ). Harapan kami Semoga kakak tidak melupakan jasa para guru yang telah mendidik dan membimbing kita, juga tidak melupakan Almameter SMP Islam Al-Azhar Syifabudi tercinta ini. Untuk rekan-rekan kelas 8 dan adik-adik kelas 7, perjuangan kita belum berakhir sampai disini, jadi kita jangan menyerah dan mudah puas atas apa yang telah kita dapatkan. Kita harus terus berjuang mengejar cita-cita dan membanggakan orang-orang disekitar kita.

Terakhir.. saya kutip dari film Cinta Pertama yang dimainkan oleh Bunga Citra Lestari dan Benjamin Joshua bahwa memang pertemuan tidak ada yang abadi. Tapi saya percaya, seperti pertemuan, perpisahan juga tidak ada yang abadi! Jangan lupakan setiap hal berharga yang telah kita alami selama bersekolah tiga tahun di sini. Simpanlah kenangan itu dalam hati kita semuaaa..

Hadirin sekalian, kami atas nama panitia tidak lupa mohon maaf yang sebesar-besarnya, apabila dalam penyambutan, penyediaan tempat dan lain-lain , terdapat hal-hal yang kurang berkenan dihati para Bapak dan Ibu sekalian semoga, semoga para bapak dan ibu membukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya.

Demikianlah sambutan dari saya. Terima kasih atas segala perhatan dan sekali lagi mahon maaf atas segala kekurangan. Dan Mohon maaf apabila ada salah-salah kata.

Akhir kata, wabilahi taufik walhidayah….

Wasalamu’alaikum Wr. Wb

PERPISAHAN SEKOLAH

Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pertama-tama marilah kita panjatkan Puji syukur ke hadirat Allah S.W.T yang selalu memberikan rahmat-Nya pada hari ini sehingga kita dapat berkumpul bersama untuk mengadakan acara perpisahan sekolah.

Shalawat serta salam saya berikan kepada baginda besar Nabi Muhammad SAW beserta sahabat dan umatnya, Dimana beliau adalah suri tauladan bagi kita.

Dan yang terhormat bapak/ibu Kepala Sekolah SMAN 1 Tanjung yang selalu memberikan Motivasi kepada kita Beserta Guru dan Staf T.U
Dan yang saya cintai teman-teman di 12 kelas pada tahun 2012, khususnya teman-teman 12 IPA 3 I love U forever banget.

Dan tidak lupa terima kasih kepada panitia yang telah membuat acara ini meriah dan pula yang memungkinkan saya untuk berdiri di sini dalam pidato yang disampaikan di depan audiens sekarang.
Saya hanya ingin berucap kepada teman-teman semua yakniselamat untuk kita semua! Kami berhasil lulus akhir .. Ya Allah, Alhamdulillah .. Hari penuh ujian yang sangat menegangkan kini telah berakhir .. Kita lulus! Kami tidak anak SMA lagi! Kami akan meninggalkan sekolah ini .. dan terpisah ..

Perpisahan .. Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kebanyakan kita pasti bertemu baru dan sudah akrab di sekolah di sini. Atau mungkin sudah ada sejak SMP, sejak SD, atau bahkan sejak lima. Pertemanan kebahagiaan akan ada ketika kita rumit ini selama tiga tahun dapat bertahan selamanya. Seakan-akan tidak tergoyahkan oleh apapun. Tetapi kita tidak dapat menyangkal bahwa sengan berjalan selama hidup kita, bersama dengan kedatangan sesuatu yang baru seperti kuliah, ngekos, kerja, perkawinan, dan juga sejalan dengan kedatangan orang-orang yang baru, teman baru, pacar baru, baru guy , pemisahan biasa terjadi. Diantara kita mungkin merasa bahwa perpisahan pengecut karena dia sedang menunggu untuk melihat hal-hal baru yang lebih menyenangkan daripada hal-hal berikut adalah sangat membosankan. Tapi mungkin di sisi yang berbeda, ada yang merasa sangat sedih karena ia memiliki banyak hal yang menyenangkan di sini dan berapa banyak kenangan telah dibuat ..

Kenangan .. Teman-teman yang saya kasih, sebelum kita terlambat menyadari bahwa waktu tidak dapat diputar kembali dan sebelum kita menyesal karena uang sekolah yang tinggi tanpa kita memiliki segala sesuatu yang berharga. Kemudian membuat banyak kenangan! Melakukan apa yang ingin Anda lakukan. Katakanlah apa yang ingin Anda katakan. Katakanlah kepada guru dalam mengajar terlalu kaku menjadi lebih santai. Katakanlah kepada bising cewe-cewe yang sok ngerasa cantik dan populer tuh jika otak lebih penting dari tampilan! Katakanlah kepada cowo d cupu sekolah untuk lebih percaya diri. Katakanlah kepada orang yang anda cintai bahwa Anda mencintainya! It's SEKARANG atau NEVER, teman! Come On! Seperti waktu berjalan oleh, memori tetap. Seiring waktu, satu-satunya yang tersisa kenanganlah ..

Terakhir .. Selama sekolah, kami sebagai siswa sangat bangga dan berterimakasih kepada semua guru yang mengajar di sekolah ini, yang sangat baik, tidak pernah tidak adil dalam mengajar, sabar, sangat lelah dan tidak tahu ke dalam panduan kami. Terima kasih atas jerih payah semua guru, kami dapat lulus dari SMP.
Mudah-mudahan semua guru yang bertugas untuk mengajar di sekolah ini dapat diberikan kesehatan dan kebahagiaan selalu diberikan.

Ada sebuah kutipan dari film Cinta Pertama dimainkan oleh Bunga Citra Lestari dan Joshua Benjamin bahwa pertemuan tidak ada yang kekal. Tapi saya percaya, seperti pertemuan, perpisahan juga tidak ada yang abadi! Jangan lupa hal-hal yang berharga kami telah berpengalaman selama tiga tahun sekolah di sini. Menyimpan kenangan di hati kita semuaaa ..

Selamat dipisahkan! Selamat adalah karena menjadi non-anak-sekolah lagi. Jauhkan diri Anda jauh dari orang tua kuliah.

Itulah bebapa kata dalam Pidato yang saya sampaikan. Semoga apa yang anda cita-citakan dibangku perkuliahan terwujud....amien..

Akhir kata Kami minta maaf jika ada satu kata yang salah atau tidak berkenan .

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

PERPISAHAN SEKOLAH

PIDATO BAHASA JAWA TENTANG PERPISAHAN SEKOLAH

السلا م عليكم ورحمة الله وبر كا ته
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى عَلَى مَا خَتَمْنَاهُ مِنَ الدِّرَاسَةِ. وَنَسْئَلُ نَفْعَهَا لِنُنْذِرَ بِهَا اَهْلَ الْقَرْ يَةِ. وَنَدْ عُهُمْ إِلَلا سَبِيْلِ رَبِّنَا بِالْحِكْمَةِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ إِبْنِ عَبْدِ اللهِ, وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَا بِهِ وَمَنْ وَالاَهْ وَعَلَى مَنْ أَقَا مَ هَذِهِ الْمَدْرَسَةِ. وَمَنْ عَلَّمَ وَتَعَلَّمَ فِيْهَا لاِعْلاَءِ كَلِمَةِ اللهِ. اَمَّا بَعْدُ

Hadratul mukarromin, poro Ulama’ul amilin poro Bapak guru dan bu guru ingkang kulo taati, poro Bapak wali murid ingkang kulo hormati, poro konco-konco sedoyo siswa-siswi madrasah……… ingkang kulo sayangi. Poro hadirin sekalian ingkang kulo hormati.

Sa’derengipun kulo ngaturaken nopo ingkang dados beban kawulo, langkung rumiyin kulo muji syukur dateng Alloh SWT ingkang sampun paring Rohmat Nikmat dumateng kulo lan panjenengan sedoyo sehinggo kito sami saged karoyo-royo, saget bertemu, berpadu lan bersatu wonten ing majelis puniko kanthi keadaan ingkang sehat wal afiat.

Ingkang kaping kalehipun mugi-mugi tambahipun Rahmat Ta’dzim Alloh tetep dipun limpahaken dateng junjungan kito Nabi Besar Muhammad SAW, soho dumateng poro ahli keluarga lan sohabatipun.

Ingkang kaping tigonipun kulo ngaturaken matur nuwun dumateng sederek pembagi acara ingkang sampun mempercayakan penuh dumateng kawulo, sa’perlu nyampeaken sambutan atas nama wakil sedoyo siswa-siswi, khususipun siswa-siswi kelas tiga tsanawiyah, ingkang sekedap maleh bade ninggalaken bangku sekolah wonten ing Madrasah puniko.

Poro Rawuh ingkang kulo hormati !

Sesuai kalian fungsi sangking tugas kawulo inggih puniko mewakili sangking sedoyo siswa-siswi khususipun siswa-siswi kelas tigo Tsanawiyah wonten ing madrasah puniko. Wonteng ing mriki kawulo ngaturaken matur nuwun ingkang sa’agungipun dumateng Poro Bapak Kyai, soho sedoyo dewan Asyatid ingkang sampun jerih payah ngorbanaken jiwa raga, tenaga, lan fikiran. Boten pandang wekdal, siang utawi dalu, panas utawi jawah sak perlu mendidik soho membina dumateng kawulo sa’konco awit milahi mlebet wonten ing madrasah mriki sehingga wekdal puniko saget dipun wastani Tamat tingkat tsanawiyah. Wonten ing mriki kulo sa’konco, boten saget bales punopo-punopo atas jerih payahipun, utawi jasa-jasanipun Poro Bapak Kyai, lan Bapak Guru, kejawi kulo namung saget ngaturaken….

جَزَا كُمُ اللهُ أَحْسَنَ الْجَزَاء كَثِيْرًا

Mugi-mugi Allah SWT ingkang bales jasa-jasa utawa jerih payahipun Poro Bapak Kiyai, Bapak Guru lan Ibu Guru kanti balesa ingkang sa’sahe-sahenipun, soho ingkang katah. Amien yaa Robbal Aalamien.

Poro Bapak poro Ibu soho Hadiri sedoyo, selajengipun kulo sa’konco ngaturaken sedoyo kalepatan dumateng poro Bapak Kiyai soho Bapak Guru wonten ing madrasah puniko, sebab kulo sa’konco sering damel susah payahipun poro Bapak Kiyai soho poro Bapak Guru sami ugi wonten ing sa’lebetipun Madrasah utwai wonteng ing jawinipun madrasah. Pramilo sepindah kulo nyuwun dipun aliraken samudra kemaafan lahir lan batin.

Ingkang terakhir kulo nyuwun barokah do’a restu dumateng Poro Bapak Kiyai soho Bapak Guru, mugi-mugiu sedoyo ilmu ingkang sampun kulo pelajari sangking madrasah puniko, sageto manfaat maslahah lan barokah saget manfaati lan barokahi dumateng pribadi kulo, masyarakat agami, lan negari ingkang akhiripun saget dados lantaran kangge taqorrub dumateng Alloh, soho ndadosaken sababiyahipun khusnul khotimah. Amieen.

Lan mugi-mugi sak sampunipun kito tamat sangking tingkat tsanawiyah puniko sageto nerusaken dateng tingkat sa’terusipun sehinggo saget hasil lan tercapai nopo ingkang kito cita-citaaken. Amien.

Kintenipun cekap semanten atur sangking kawulo awal ngantos akhir sedoyo kelepatan kulo, kulo nyuwun agengipun pangapunten.

و بالله التو فيق و الهداية
والسلا م عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Wednesday, 14 March 2012

CONTOH PIDATO BAHASA JAWA

1.PIDATO THOLABUL ILMI

السلا م عليكم ورحمة الله وبر كا ته
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى فَضَّلَ بَنِيْ أَدَمَ بِا لْعِلْمِ وَالْعَمَلِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَى كُلِّ حَالٍ. وَ عَلَى اَلِهِ وَاَصْحَا بِهِ اَصْحَابِ الْكَرَامَةِ وَالْكَمَلْ أمّا بعد

Dumateng Poro Bapak, poro Ibu, Hadirin sekalian ingkang kulo hormati !
Minangkani awalipun atur kulo ing mriki kulo muji syukur Alhamdulillah dateng Alloh SWT ingkang sampun paring pinten-pinten Rohmat, Ni’mat, dumateng kulo, lan panjenengan sedoyo, sehinggo kulo lan panjenengan saged karoyo-royo bucal thempo ninggalno griyo, ninggal bondho lan rojo koyo sami saget rawo wonten ing majlis puniko boten ategas prawan golek joko, utawi dudo golek rondho. Nanging leres-leres golek ilmu Agomo. Ilmu sing keno kangge sangu dateng griyane moro tuwo. Shoho ilmu sing keno kangge sangune ngadep datang kang moho kuoso.

Poro rawuh ingkang kulo hormati !
Sebagai pengajak kulo monggo iang saat meniko kulo lan panjenengan samiho niat ngaji. Niat ibadah dateng ngarsanipun Allah SWT. Keranten pancen dados tiyang Islam lho Pak?! Bu?! Ngaji niku wajib tumrap kito sedoyo. Kanjeng Nabi dawoh :

طَلَبُ الْعَلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسِلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ (رواه ابن عبد البر)

Ingkang artosipun :
“Bilih pados ilmu meniko dipun fardhuaken tumrap saben-saben tiyang Islam jaler lan istri“
Soho kanti hadist meniko kito sampun jelas bilih pados ilmu meniko merupakan proses ingkang serba terus tanpa wonten bates waktu baik kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Dados senajan tiyangnipun sampun tuwek, elek, ngrowek, untune entek, ora tedas peyek, meniko tetep kewajiban pados ilmu.

Poro Rawuh ingkang kulo hormat !
Keranten tiyang niku menawi boten gadah ilmu senajan toh ibadah sampek jungkir balik, utawi ibadah mempeng, tapi boten dipun ilmuni meniko tiwas bal gedual.

وُ كُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْم يَعْمَلُ اَعْمَالُهُ مَرْ دُوْ دَةٌ لاَ تُقْبَلُ

Tiyang niku menawi boten gadah ilmu, ngamalipun boten dipun terimo dening Alloh. Mardudatun Laa tugbalu.
Pramilo sangkeng meniko, monggo Poro Rawoh sedoyo terutama adik-adik lan generasi Muda-mudi remaja Islam. Kito tingkataken anggen kito belajar. Supados benjang angsal ilmu ingkang katah lan manfaat soho ilmu ingkang saget beto bahagia lan wilujeng donyo lan akherat. Hal meniko cocok kalian dawohipun Alloh wonten Al-Qur’an, Surat Al-Mujadalah ayat 11

يَرْفَعِ الله ُ الَّذِ يْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِ يْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artosipun :
“Allah bade ngangkat derajatipun tiyang-tiyang ingkang beriman lan tiyang-tiyang ingkang nggadahi ilmu dateng pinten-pinten derajat“
Tapi sa’wangsulipun menawi kito boten anggadahi ilmu boten saget ngaji lan boten purun belajar lan boten sekolah, tengriyo namung kluyur-kluyur jogrok klimprak-klimprik kados sarung goyor, niku nggih boten patut, sampun ketinggalan jaman. Amargi, niki sampun jaman merdeka boten kados jaman penjajah. Sa’niki sampun kathah sekolahan sampun kathah tempat-tempat pendidikan. Pramilo monggo kito tingkataken anggen kito belajar, pados ilmu pengetahuan ingkang kathah. Soho dumateng poro Bapak, Ibu sampun ngantos ketinggalan, ojo sampek gadah putro sing lolak-lolok, boten purun sekolah, boten purun ngaji, boten purun datang masjid, datang langgar, lan sanes-sanesipun. Keranten lare niku menawi boten kenal pendidikan, nopo maleh pendidikan Ilmu Agama. Niku nggeh nyusahaken tiyang sepuh nipun. Menawi kentandang gaweh boten purun. Sa’bendino ngente’no sego, jaluki duwit, di tuturi boten manut, karo Ibu nesu, karo bapak galak, karo Embah mbantah, karo Kakang mbangkang, karo Paklek mendelik, karo Pakdhe gumedhe, karo dulur ngladur, karo tonggo ora duwe dugho. Diajar nangis, kon minggat boten budal, di guwak moleh bendino ngentekno sego, didhol ora payu Akheripun tiyang sepuhipun namung susah, gelisah pikiran jibek napas sesek, dodo ampek, awak dredek, kuping gemrebek weteng muneg-muneg, irung pilek, awak sak kujur rasane dredek, bendino kur telek-telek mergo duwe anak ndablek kon mergawe ora untek menengahe malah mbegegek lek ngeteniki tiyang sepuh susah menopo boten? Poro Bapak Poro Ibu? Mulane monggo putro-putrine dipun didik ingkang saestu supados leres-leres saget kados lare ingkang berguna bagi Agama, Bangsa lan Negoro, Soho ingkang saget menjunjung tinggih Harkat lan Martabat tiyang sepuhipun kaleh. Ingkang cocok dawohipun kanjeng Nabi

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّآسِ

Artosipun :
“Sa’bagus-baguse menongso yoiku sing manfaat marang, menungso liyane“
Poro rawo ingkang kulo hormati !

Kintenipun cekap semanten atur kulo, kirang langkungipun kulo nyuwun pangapunten.

و بالله التو فيق و الهداية
والسلا م عليكم ورحمة الله وبر كا ته
 
 
 

2....IDATO BAHASA JAWA TENTANG PERPISAHAN SEKOLAH

السلا م عليكم ورحمة الله وبر كا ته
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى عَلَى مَا خَتَمْنَاهُ مِنَ الدِّرَاسَةِ. وَنَسْئَلُ نَفْعَهَا لِنُنْذِرَ بِهَا اَهْلَ الْقَرْ يَةِ. وَنَدْ عُهُمْ إِلَلا سَبِيْلِ رَبِّنَا بِالْحِكْمَةِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ إِبْنِ عَبْدِ اللهِ, وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَا بِهِ وَمَنْ وَالاَهْ وَعَلَى مَنْ أَقَا مَ هَذِهِ الْمَدْرَسَةِ. وَمَنْ عَلَّمَ وَتَعَلَّمَ فِيْهَا لاِعْلاَءِ كَلِمَةِ اللهِ. اَمَّا بَعْدُ

Hadratul mukarromin, poro Ulama’ul amilin poro Bapak guru dan bu guru ingkang kulo taati, poro Bapak wali murid ingkang kulo hormati, poro konco-konco sedoyo siswa-siswi madrasah……… ingkang kulo sayangi. Poro hadirin sekalian ingkang kulo hormati.

Sa’derengipun kulo ngaturaken nopo ingkang dados beban kawulo, langkung rumiyin kulo muji syukur dateng Alloh SWT ingkang sampun paring Rohmat Nikmat dumateng kulo lan panjenengan sedoyo sehinggo kito sami saged karoyo-royo, saget bertemu, berpadu lan bersatu wonten ing majelis puniko kanthi keadaan ingkang sehat wal afiat.

Ingkang kaping kalehipun mugi-mugi tambahipun Rahmat Ta’dzim Alloh tetep dipun limpahaken dateng junjungan kito Nabi Besar Muhammad SAW, soho dumateng poro ahli keluarga lan sohabatipun.

Ingkang kaping tigonipun kulo ngaturaken matur nuwun dumateng sederek pembagi acara ingkang sampun mempercayakan penuh dumateng kawulo, sa’perlu nyampeaken sambutan atas nama wakil sedoyo siswa-siswi, khususipun siswa-siswi kelas tiga tsanawiyah, ingkang sekedap maleh bade ninggalaken bangku sekolah wonten ing Madrasah puniko.

Poro Rawuh ingkang kulo hormati !

Sesuai kalian fungsi sangking tugas kawulo inggih puniko mewakili sangking sedoyo siswa-siswi khususipun siswa-siswi kelas tigo Tsanawiyah wonten ing madrasah puniko. Wonteng ing mriki kawulo ngaturaken matur nuwun ingkang sa’agungipun dumateng Poro Bapak Kyai, soho sedoyo dewan Asyatid ingkang sampun jerih payah ngorbanaken jiwa raga, tenaga, lan fikiran. Boten pandang wekdal, siang utawi dalu, panas utawi jawah sak perlu mendidik soho membina dumateng kawulo sa’konco awit milahi mlebet wonten ing madrasah mriki sehingga wekdal puniko saget dipun wastani Tamat tingkat tsanawiyah. Wonten ing mriki kulo sa’konco, boten saget bales punopo-punopo atas jerih payahipun, utawi jasa-jasanipun Poro Bapak Kyai, lan Bapak Guru, kejawi kulo namung saget ngaturaken….

جَزَا كُمُ اللهُ أَحْسَنَ الْجَزَاء كَثِيْرًا

Mugi-mugi Allah SWT ingkang bales jasa-jasa utawa jerih payahipun Poro Bapak Kiyai, Bapak Guru lan Ibu Guru kanti balesa ingkang sa’sahe-sahenipun, soho ingkang katah. Amien yaa Robbal Aalamien.

Poro Bapak poro Ibu soho Hadiri sedoyo, selajengipun kulo sa’konco ngaturaken sedoyo kalepatan dumateng poro Bapak Kiyai soho Bapak Guru wonten ing madrasah puniko, sebab kulo sa’konco sering damel susah payahipun poro Bapak Kiyai soho poro Bapak Guru sami ugi wonten ing sa’lebetipun Madrasah utwai wonteng ing jawinipun madrasah. Pramilo sepindah kulo nyuwun dipun aliraken samudra kemaafan lahir lan batin.

Ingkang terakhir kulo nyuwun barokah do’a restu dumateng Poro Bapak Kiyai soho Bapak Guru, mugi-mugiu sedoyo ilmu ingkang sampun kulo pelajari sangking madrasah puniko, sageto manfaat maslahah lan barokah saget manfaati lan barokahi dumateng pribadi kulo, masyarakat agami, lan negari ingkang akhiripun saget dados lantaran kangge taqorrub dumateng Alloh, soho ndadosaken sababiyahipun khusnul khotimah. Amieen.

Lan mugi-mugi sak sampunipun kito tamat sangking tingkat tsanawiyah puniko sageto nerusaken dateng tingkat sa’terusipun sehinggo saget hasil lan tercapai nopo ingkang kito cita-citaaken. Amien.

Kintenipun cekap semanten atur sangking kawulo awal ngantos akhir sedoyo kelepatan kulo, kulo nyuwun agengipun pangapunten.

و بالله التو فيق و الهداية
والسلا م عليكم ورحمة الله وبر كا ته

..............................................................................................................................................................
 

 

CONTOH PIDATO BAHASA SUNDA

  Ngawangun Nagri nu Utami

 

Innal hamda kullahu lillah. Nahmaduhu wa nastai’nuhu wa nastagfiruhu wa na’udzu min syururi anfusina wa min sayyiati a’malina. Mayyahdillahu fala mudzilallah wama yudlilhu fala hadiyalah.

Asyhadu anla ilaha illalah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluhu, la nabiya ba’dah.

Puji anu janten mimiti ngamugi-mugi ka Gusti Nu Maha Suci. Puja minangka bubuka carita, urang sanggakeun ka Pangéran Nu Nu Maha Kawasa, kalayan sukur kapihatur ka Alloh Nu Maha Gofur.

Alhamdulillah wa syukrillah wa ‘ala ni’matillah, dina dinten ieu anu dimulyakeun ku Alloh SWT, urang sadaya parantos dikersakeun ku Manten-na tiasa kumpul ngariung paamprok jonghok dina ieu makom, dina raraga ngamumulé atanapi miémut “hari jadina” Kabupaten Ciamis anu ka 368. Acara ieu parantos janten adat tatali rasa pikeun Pemda Kab. Ciamis jeug sakumna warga masrakat Tatar Galuh Ciamis enggoning ngajantenkeun Kabupaten Ciamis janten Nagari anu Utami. Sakumaha anu parantos dijantenkeun visi ogé missina Kabupaten Ciamis ku anjeun.

Solawat sinareng salam mugi-mugi dikocorkeun ka jungjunan urang sadaya, habibana wa nabiyana, Kangjeng Nabi Muhammad SAW, kalayan mugi-mugi dikocorkeun ogé ka kulawargina, ka para sohabatna, ka tabi’in tabi’atna kalebet urang sadaya kaom muslimin anu turut-tumut kana ajaranana. Pamugi urang sadaya kalebet umat anu kénging syafaat di yaumil ahir. Amin.

Bapa kalih Ibu, hadirin palawargi hormateun sim kuring!

Langkung ti payun neda nyuhun maklum nya paralun miréh sim kuring dina medar ieu carita kirang tata titi duduga peryoga, maklum keuna kana paribasa: “ciri sa nagri cara sa désa jawadah tutung biritna sa carana sa carana” bilih aya tingkah paripolah anu kabantun ti pakampungan anu kacandak di padésaan mantak ngajantenkeun reheut kana mamanahan para wargi sadaya, sakali deui sim kuring neda sih tawakuna, hapunten anu kasuhun.

Hadirin hormateun sim kuring!

Peryogi kauninga wiréh ngadegna kota Ciamis palias sanés ladang énténg, tinangtos tina hasil prosés anu rumpil tur panjang. Sim kuring kataji ku salah sawios pupuhu anu janten Bupati Galuh anu ka genep welas, anu jenenganana Raden Adipati Aria Kusumadiningrat, anu parantos kaamanahan ngaheuyeuk dayeuh ngolah nagara Galuh Ciamis dina taun 1839 dugi ka taun 1886.

Saha kinten anu katelah satria linuhung kajamparing angin-angin, kakoncara ka janapria téh? Raden Adipati Aria Kusumadiningrat téh kalebet tokoh anu luhung ku élmu, beunghar ku komara —tiasa janten ngawujud ngaraga sukma ka Bapa Engkon Komara— jenenganana nyambuangkeun wawangi arum, lantaran Kangjeng Prebu kagungan élmu linuhung, Bupati munggaran anu tiasa ngaos aksara latén. Maréntah adil palamarta,
wedi asih ka rahayat.

Pamaréntah kolonial harita keur meujeuhna ngagederkeun Tanam Paksa téa. Saenyana ari di tatar Priangan mah ti taun 1677 ogé geus dilaksanakeun anu disebut Preangerstelsel atawa sistim Priangan nu tumali jeung komoditi kopi téh.

Tepi ka ayeuna langgeng dina lagu jeung hariring, tembang nu cipruk imata, cenah geuning “Dengkleung dengdék, buah kopi raranggeuyan. Ingkeun sadérék, ulah arék dihareureuyan“, gambaran wanoja anu sedih kapapanjangan lantaran ditinggalkeun ku panutan nu pancén gawé tanam paksa.

Tina Preangerstelsel, di lembur-lembur séjén saterusna dimekarkeun jadi Culturstelsel. Tétéla di Kabupatén Galuh mah lain komoditi kopi wungkul anu dipaksa kudu diparelak ku rayat téh, tapi ogé nila. Proyék nila ieu pisan anu nimbulkeun insidén Van Pabst nu ngabalukarkeun Bupati Imbanagara dirurud tina kalungguhanana téh.

Mimiti Ngebon Kalapa. Tangtu baé Kangjeng Prebu bati sedih jeung prihatin nyaksian rahayatna dipaksa kudu marelak kopi jeung nila, bari hasilna dikunjalan ka nagara Walanda. Rahayat ukur kabagian kokoprot kesangna wungkul, kabagian bubuh ripuhna, cul anak pamajikan jeung kulawarga, sapopoéna kudu ngagugulung kebon kopi jeung entéh. Tah, jaman tanam paksa kopi ieu pisan lahirna kawih sedih Dengkleung Déngdék téh.

Kangjeng Prebu ku anjeun nangis lebeting manah, teu téga nyaksian rahayat kasiksa ku katelengesan pamaréntah kolonial. Pikeun ngurangan bangbaluh rahayat, sangkan sajeroning lakon gawé tanam paksa henteu tepi ka lieuk euweuh ragap taya, énggal ngagederkeun pangwangunan, kayaning nyieun solokan-solokan jeung bendungan, mun ayeuna mah solokan tersiér jeung sekundér katut dam-dam anu tohaga.

Tepi ka ayeuna aya kénéh solokan Garawangi nu diwangun taun 1839, Cikatomas taun 1842, Tanjungmanggu nu leuwih mashur disebut Nagawiru diwangun taun 1843 jeung solokan Wangunreja 1862.

Saterusna Bupati anu beunghar ku élmu panemu turta henteu tiasa kulem saméméh babakti ka rahayatna téh, muka lahan pasawahan anyar jeung kebon kalapa di mana-mana. Malah pikeun sosialisasi kalapa mah, unggal calon pangantén lalaki mun seserahan diwajibkeun mawa kitri (binih kalapa), anu saterusna kudu dipelak di buruan imahna tempat pangantén ngawalan rumah tangga.

Ti jaman Kangjeng Prebu, perkebunan kalapa di Galuh Ciamis nyolontod jadi, kacida suburna, produksi ngahunyud di saban lembur. Atuh teu kungsi lila ogeCiamis sohor jadi gudang kalapa pangma’murna di Priangan wétan. Dugdeg pabrik minyak kalapa diadegkeunku para pangusaha, pangpangna Cina. Nu pangsohorna Gwan Hien, ceuk urang Galuh mah Guanhin. Terus pabrik Haoe Yén jeung pabrik di Pawarang anu sohor disebutna Olpado (Olvado). Tah, Olpado mah musnah karagragan bom waktu Galuh dibombadir ku Walanda. Guanhin ogé kantun ngaran, sumawonna nu séjénna. Ka dieunakeun minyak kalapa kadéséh ku minyak kalapa sawit jeung minyak goréng séjénna.


2. Ngamumule Banda Budaya Sorangan

miéling ‘Hari Jadi KotaBogor anu ka….

Assal amu’ alaikum wr. wb.
Bapa miwah Ibu anu ku sim kuring dipihormat.
Sateuacanna sumangga urang nyanggakeun puji sinareng sukur ka Gusti Nu Maha Agung, anu parantos maparin kaséhatan sareng kakiatan ka urang sadaya. Alhamdulillah, ku jalaran ni’mat ti manten-Na pisan, dina danget ieu urang tiasa patepung lawung paamprok jonghok di ieu tempat dina raraga miéling ‘Hari Jadi KotaBogor anu ka….
Solawat miwah salam, urang sanggakeun ka Jungjunan urang sadaya, nabi ahir jaman anu parantos nuyun sakumna umat kana jalan kamulyaan, Nabi Muhammad SAW, ka kulawargina para sohabatana kalih ka jalmi-jalmi soléh sapandeurieunana.Hadirin hormateun sim kuring!
Langkung tipayun sim kuring hoyong nyanggakeun pangwilujeng, réhna Kota Bogor ayeuna nuju milangkala anu ka….
Salaku urang Bogor, kantenan baé urang sawadina kedah reueus, jalaran Bogor anu katelah “Kota Hujan” téh aya punjulna ti wewengkon séjénna nu aya di Jawa Barat. Naon baé kapunjulan Kota Bogor téh? Upami seug ditataan hiji-hiji mah kantenan seueur pisan. Dina danget ieu sim kuring mung badé medar salangkung baé jalaran waktosnaa nu samporét.
Sakumahaa nu kauninga ku hadirin sadaya parantos ti béh ditu kénéh Bogor kawéntar ka mana-mana ku kaéndahan alamna, sarta hawana anu matak seger. Ku urang Walanda dugi ka disebat buitenzorg hartosna tempat pikeun ngareureuh.
Bapa miwah lbu, sumangga urang tataan kaéndahan alamna. Bogor miboga tempat-tempat wisata anu kalintang éndahna sarta kadeugdeug ku nu ngaradon piknik ti mana-mana. Aya Kebon Raya, Taman Safari, Taman Bunga Cibodas,Curug Cilémber, sareng sajabina. Salian ti kaéndahan alam, Bogor ogé miboga tempat wisata budaya.
Di Bogor aya Istana Bogor, Museum Zoolog;, Museum Perjuangan tempat karajinan wayang, sareng sajabina.
Kantenan baé eta kaéndahan alam téh kedah diriksa ku urang sadaya. Upami lingkungan alam ku urang diruksak tangtos bakal nimbulkeun mamala. Balukar tina ruksakna leuweung, ku urang apan katingal aya musibat di mana-mana. Naon margina?Jalaran manusa kiwari beuki sarakah beuki resep ngaruksak kasaimbangan alam. Saban waktos tangkalan dituaran di mana-mana, bari langka dipelakan deui sakumaha mistina. Balukama gunung-gunung darugul, pasir-pasir bulistir. urug saban waktos. Banjir saban waktos. Kitu deui banda budaya. Upami henteu dipiara dimumulé ku urang tangtos bakal tumpur.
Hadirin hormateun sim kuring!
Rupina teu aya deui anu tiasa dipilampah “iwal ti hayu urang sasarengan, rempug jukung sauyunan miara sareng ngamumulé banda budaya sorangan. Hayu urang ngariksa alam sabudeureun ngarah tetep asri tur éndah. Hayu urang rampak tandang ngawangun Bogor lemah sarakan urang.
Mawa obor ka Cikarang,
mawa kisa ka Cianting.
Kota Bogor boga urang,
kudu diriksa dijaring.
Mawa obor sisi kulah,
di susukan aya hurang.
Kota Bogor lemah éndah,
kota panineungan urang.
Hadirin nu dipihormat!
Rupina sakitu nu kapihatur. Hapunten bilih aya basa sareng tata-krama anu kirang merenah. Bobo sapanon carang sapakan. Langkung saur bahé carék hapunten anu kasuhun.
Wassalamu’alaikum wr. wb.


ssalamuallaikum...Wr..Wb

Bapak-bapak kalih Ibu-ibu anu ku sim kuring di pihormat , Langkung ti payun mangga urang panjatken puji ka gusti anu maha suci, puja kagungan anu maha kawasa, syukur kagungan Allah nu maha gofur. Salawat sareng salam mugi-mugi di kucurkeun ka jungjunan urang sadaya Nabi Muhammad Rosulullah S.A.W. atuh teu hilap urang sadaya anu janten umatna mugia kenging rahmat sareng safaat ti manten-na jaga di yaomil akhir “Amin Yarobal Alamain”.

Ibu-ibu, wargi hadirin sadayana. Ku ngalangkungan ieu acara Alhamdulillah urang tiasa kempel ngariung pa teuteup wajah di ieu tempat mugi kenging ridho Allah Swt. “Amin Yarobal Alamain”.

Wargi hadirin sadayana, sim kuring utusan ti darma wanita kecamatan Bantarujeg, panginten urang moal wanoh pami teu wawala, moal apal pami teu patepang. Naon atuh anu bade di carioskeun teh? Teu aya sanes seja nutur jalur carita lingkungan nu aya di sabudeuren wewengkon sim kuring nyaeta kacamatan Bantarujeg.
Wargi hadirin sadayana ; upami ku urang di titenan hiji-hiji nikmat ti Allah Swt. Tangtos moal ka etang anu pantes sareng payus ku urang di tafakuran sareng di syukuri.
Syukur dina istilah Islam,

Syukur nyaeta urang tumarima wireh sadaya nikmat ti Allah Swt sareng urang tiasa ngalaksanakeun sadaya kawajiban anu di parentahkeun ku Allah Swt sareng ninggallkeun naon-naon anu di larang ku Allah Swt.

Hirup sareng kahirupan urang aya dina hiji lingkungan ieu  teh mangrupakeun anugrah ti Allah Swt sapertos sim kuring hirup di lingkungan kecamatan Bantarujeg hiji kacamatan anu tebih tina karamean, lingkungan nu teu kinten tebih tina kasampurnaan naon anu dipiharep ku pamarentah jaman kiwari, Bantarujeg anu disebat desa-desana aya di pagunungan ti desa ka desa jalan naek turun anu jumlah sadayana 13 desa. Rupina Bantarujeg kadua paling ujung anu kalebet kabupaten majalengka, tiap para padamel anu di tugaskeun ka bantarujeg sok nyebatkeun di buang, padahal anu tos ngalaman hirup di lingkunga Bantarujeg sadayana oge sok ngaraos nyaman sareng betah.

Tapi sok sanaos tebih ti kota kabupaten, Alhamdulillah di lingkungan Bantarujeg aya salah sahiji sumber daya alam mangrupa batu anu tiasa di reka-reka warna-warni bentukna sareng tiasa di manfaatken kanggo kaperyogian masyarakat Bantarujeg khususna. Salain ti eta tiasa oge di kintun kasetiap pelosok-pelosok bahkan dugikeun ka aya anu tos tiasa di ekspor ka luar negeri.

Sagedengeun ti eta aya deui hiji batu anu kacida gedena tur matak resep ningalina, upami saur bahasa Indonesia-mah di sebatnateh “gunung yang tidak berbaju”  nyaeta gunung buligir namina, anu legana kinten-kinten sahektar, tah ieu teh hiji gunung anu tiasa di anggo rekreasi ku masyarakat ti setiap pelosok, salain ti eta sok biasa oge di anggo taman rekreasi ku murang kalih sakola upami nuju liburan sakolana, katambih deui ku masyarakat anu ti luar kabupaten Majalengka, padahal eta gunung mung sakadar gunung tanpa aya wahana anu di jieun ku jalma estuning dadamelan Allah Swt. Sok kitu deui upami masyarakat lingkungan bantarujeg tiasa ngarawat ka eta tempat rekreasi panginten tiasa nambahan kana panghasilan masyarakat desa Silihwangi. Mung panginten kanggo ningkatkeun sumber daya alam eta teh kedah meryogikeun modal, ieu nu janten implengan warga masyarakat atanapi lingkungan Bantarujeg.

Bu, ayeunamah lingkungan Bantarujeg teh teu kakantun-kantun teuing, boh tina so’al pendidikan, ekonomi, sosial. Margi satiap lingkungan tos aya sumber daya alam kanggo ningkatkeun hirup jeung kahirupan masyarakat.

Rupina sakitu anu tiasa kapihatur caritra ligkungan di sabudeureun kacamatan Bantarujeg, kirang sareng langkungna neda di tawakuf anu saageung-ageungna.

Billahi taufik walhidayah, 
Wassallamualaikum warahmatullah wabarokatuh.
 
 

3.Biantara Nyérénkeun jeung Narima Calon Pangantén | Biantara Sesepuh ti Calon Pangantén Lalaki

Biantara Nyérénkeun jeung Narima Calon Pangantén
Biantara Sesepuh ti Calon Pangantén Lalaki

Saleresna mah ieu téh masih kénéh rénghap ranjug. Nembé pisan dongkap, tos dipiwarang biantara. Padahal ari kahoyong mah teras ngagolér, wantuning lalampahan ngajajapkeun calon pangantén téh kacida tebihna, di jalan ogé dugi ka opat dinten opat wengi. Nanging da haté mah kebek ku kabingah, ku kituna, simkuring ngahaturkeun: Assalamu’alaikum Wr. Wbr.

Hadirin anu sami-sami ngaluuhan ieu pajemuhan,

Alhamdulillah, ku panangtayungan Alloh SWT, dinten ieu urang tiasa riung mungpulung, kanggo langkung maheutkeun babarayaan, manjangkeun tali mimitran, antara kulawarga Bapa H. Among Suryabarata ti Bandung sareng kulawarga Bapa Éméd Latipah ti Kalimatan Timur. Sumuhun, ari sonona mah nataku, da puguh urang téh kasapih ku tebih kahalang ku anggang.

Simkuring asmana pun lanceuk, Bapa Éméd, kapapancénan pikeun sasanggem di payuneun para hadirin. Ari maksadna mah, sakumaha anu diharéwoskeun ku anjeunna sababaraha dinten kalarung, seja masrahkeun putrana, Jang Omad Kadaluwarsa anu gaduh niat ngadahup ka putra Bapa Among, Néng Siti Sapuratina. Sanaos ari awak mah simkuring téh misah ti batur, nya jangkung nya badag nya hideung, nanging dina surun-sérén calon pangantén mah rumaos ngatog kénéh. Ku kituna seja tawakup ti anggalna, bilih aya kecap anu milepas meuntas tina jejer.

Bapa Among ogé tangtos parantos uninga, réhna pun lanceuk, gaduh putra anu sakitu cicingeunana. Duka dusun, duka mémang tos watekna, dugi ka umur 27 téh bangun anu henteu hir-hir begér. Gawéna ulukutek di kamar. Sigana sono kénéh ka buku ti batan ka nu lenjang téh. Atuh puguh pun lanceuk guling-gasahan, inggis ku bisi Jang Omad kumaha onam, malum jaman ayeuna seueur kacarioskeunana. Pun lanceuk mah apan sok togmol pisan: “Naha ari manéh teu hayang boga pamajikan? Kuliah geus tamat, gawé geus boga, umur geus manjing, tapi siga nu euweuh haté ka awéwé,” kitu saur pun lanceuk téh. Ari walerna: “Upami tos aya jodona mah, moal ka mana!”

Ari sataun kapengker, Jang Omad alangah-éléngéh, badé waléh tayohna téh. Cenah geus kaimpleng pibojoeunana, malah geus paheut rék teras ngawangun rumah tangga. Bingah tur panasaran pun lanceuk téh, énggal baé ditalék: “Mana atuh? Cik wanohkeun ka Bapa,”. Walerna téh: “Da abdi gé teu acan tepang!”. Beu! Na ari barudak ayeuna.

Sihoréng simanahoréng, anu dipicangcam ku Jang Omad, nya urang dieu pisan, urang Bandung. Kantenan sesah patepang, wantuning Bandung-Samarinda téh apan kalintang tebihna. Barudak téh wawanohan dina … duh na aya ku hilap, mana Jang Omad? (rarat-rérét) Dina naon cenah, Sujang? Tah, éta, dina internit, aéh na létah téh, in-ter-nét. Teu apal nu kararitu kolot mah. Da éta wé, ka dituna téh maké jeung cutang-céting sagala, terus silih kirim potrét.

Najan jonghokna di dunya maya, tapi apan jodo mah Anjeun-Na Anu Uninga. Bet terus dicukcruk pancakakina, geuning pun lanceuk téh rék bébésanan jeung baraya, atuh sasatna asa diaku dulur. Sumuhun, baraya kasebatna, da papada urang Sunda. Najan pun lanceuk tos 15 taun ngumbara di Kalimantan, nanging ari ka lembur mah angger baé nineung. Bingah, bingah nu taya papadana.

Langkung bingah deui, basa Jang Omad ngajak nganjang ka lemah Sunda, nepangan bébéné dina internét téa. Opat sasih kapengker, alhamdulillah pun lanceuk tiasa jonghok sareng kulawarga Pa Among, anu saterasna ngararancang pikeun ngadahupkeun Jang Omad ka Néng Siti. Henteu lepat tina pirasat, manahoréng anu diimpleng ku Jang Omad téh sanés istri joré-joré. Geulis rupa geulis haté. Sumuhun éta gé, barudak urang téh hirup dina jaman moderén, nanging geuning henteu lali ka purwadaksi, masih kénéh ngajénan adat titinggal karuhun. Buktosna mah, barudak meredih sangkan dina waktuna panganténan téh maké adat budaya Sunda, sanés ku budaya anu jolna ti nagara deungeun. Sanaos Néng Siti sakitu paséhna nyarios basa Inggris, sanaos Jang Omad sakitu hatamna kana komputer, tapi henteu mopohokeun ajén-inajén Sunda. Tah, éta pisan nu matak bingah téh.

Nguningakeun baé ieu mah, pun lanceuk téh, kalebet simkuring, 15 taun kapengker ngumbara ka Kalimantan, ngiringan transmigrasi. Alhamdulillah pinanggih sareng kamarasan, dugi ka ngadegkeun Pakumpulan Urang Sunda, ti dituna mah hoyong ngiring ngamumulé basa sareng budaya bantun ti lembur. Janten teu kedah hariwang, sanaos 15 taun janten urang Samarinda, ari niup suling sareng metik kacapi mah insya Alloh tiasa kénéh. Tuh, pan, bet jig-jig kana kacapi.

Bapa Among miwah Ibu sakalih, kitu deui wargi sepuh sadaya anu sami ngaluuhan ieu pajemuhan. Tepungna Jang Omad sareng Néng Siti téh, éstuning kersaning Alloh. Atuh cenah éta barudak gaduh cita-cita hayang ngahiji, ari kolot mah apan saukur nyambung ku dunga, asal ulah ngarérémokeun baé, asal duanana pada-pada suka henteu ngarasa diamprok-amprok. Nanging, kangaranan anu rék diajar rumah tangga, tangtos dina émprona téh talag-tolog sareng dirarampa kénéh. Biasana rék ulin ka mana gé taya nu nyaram, geus jadi salakina mah tangtu kasengker ku nu di imah. Biasana duit téh dibéakkeun ku sorangan, geus nikah mah kudu diatur ku duaan. Biasana saré téh … aéh, na bet jig-jig kana saré. Tah kitu Pa Among, simkuring asmana pun lanceuk nyérénkeun Jang Omad téh sanés mung raga badagna wungkul, nanging sareng sadaya kakirangan anu nyampak dina dirina.

Ari haté mah simkuring téh parantos yakin, badé pédé baé, Jang Omad tangtos ditampi ku kulawarga Pa Among di Bandung. Nanging, kanggo langkung ngantebkeun pamaksadan, nya seja nalék sakali deui. Bilih baé, Néng Siti teras ngolémbar, malum pun alo mah sakitu buktosna. Ku émutan, ti batan ngolémbar engkéna, nya mending balaka baé ti ayeuna. Papadaning kitu, simkuring mah percanten ka Néng Siti, moal unggut kalinduan moal gedag kaanginan.

Atuh Jang Omad, simkuring wantun ngajamin, dugi ka ayeuna masih kénéh ngait ka Néng Siti. Simkuring minangka sepuhna, tangtos isin binarung wéra upama Jang Omad lanca linci. Leres pisan deuih, Jang Omad téh masih kénéh nyorangan, teu acan kantos rimbitan. Dijamin teu aya watek cunihin, Néng Siti téh éstuning anu munggaran, sareng mudah-mudahan deuih janten anu pamungkas.

Simkuring saparakanca dongkap ka dieu, tebih-tebih ti Kalimantan, éstuning teu jingjing teu bawa téh sanés ukur lalambé. Kaémut panginten, kumaha riweuhna. Tadina badé nungtun munding, mung teu kasawang kumaha marabanana, kacipta kalahka begang di jalan. Ngabantun bungbuahan, kuriak buruk mantén. Tungtungna mah ngaligincing. Ongkoh asa kabebereg ku calon pangantén nu bangun teu sabar. Sajajalan téh ngan SMS-an baé, “antosan geulis, sakedap deui,” cenah, padahal nembé jrut ka buruan.

Sakitu panginten ti simkuring mah, bilih waktosna kabujeng teu nyekapan. Hapunten tina samudaya kalepatan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wbr.  



4. Biantara Nyérénkeun jeung Narima Calon Pangantén
Biantara Sesepuh ti Calon Pangantén Awéwé

Assalamu’alaikum Wr. Wbr.

Ngahaturkeun nuhun ka panata acara anu parantos nyésakeun lolongkrang waktos kanggo simkuring, pikeun sasanggem dina ngabagéakeun kulawarga calon pangantén pameget. Rupina teu aya deui kecap nu langkung anteb kanggo ngébréhkeun rasa bagja jero dada, iwal ti tasyakur bini’mah, ngagalindengkeun puji miwah sukur ka Alloh SWT, anu tos ngalungsurkeun pirang-pirang nimat kanggo urang sadaya; nimat iman, nimat Islam, nimat dipaparin jagjag tur waringkas, dugi ka dina dinten anu sakieu cangrana, insya Alloh urang baris nyakséni ngadahupna Jang Omad Kadaluwarsa ka Néng Siti Sapuratina.

Alhamdulillah, pangersa Bapa Naib ti Kantor Urusan Agama parantos sumping. Mangga Pa Naib, calikna di payun, supados simkuring langkung reugreug. Sumuhun, sabada nyukruk galur pancakakina mah, geuning sareng Bapa Naib téh masih baraya. Kupungkur, simkuring kantos sakulah-sakolih sareng anjeunna di internaat, waktos sasarengan janten murid Sakola Normal. Kulan? Sumuhun, sanés internét, in-ter-naat. Upami ayeuna mah teu bénten sareng asrama.

Ku ditepangkeunana sareng Bapa Naib, asa tambih ngandelan kayakinan, réhna perkawis jodo, pati, bagja sinareng cilaka mah anging Alloh Anu Uninga. Bapa Naib nembé ngaharéwos, saurna, sanajan tos puluhan taun didamel di Kantor Urusan Agama, sanajan tos ratusan kali nyatetkeun anu panganténan, nanging berekah dugi ka danget ieu masih kénéh nyorangan. Kulan? Sumuhun, di dieu saurna nyorangan sotéh, da di bumina mah aya nu ngaréncangan.

Urang kantunkeun heula dongéng Bapa Naib. Badé langsung baé ngawaler patalékan ti sesepuh calon pangantén pameget, bilih aranjeunna gantung dangueun, bilih teu sabar nganti walonan. Mangkaning nembé nyorang lalampahan sakitu tebihna, sageuy upami diulur ku waktu téh. Pa Éméd, kitu deui wargi-wargi sanésna ti Kalimantan, Jang Omad téh seja ditampi, sakali deui, seja ditampi binarung ku kabingahan.

Bapa Emed kalih Ibu, kitu deui wargi-wargi sadaya anu ku simkuring dipihormat,

Sanaos tos aya kedal ucap yén Jang Omad seja ditampi, nanging asa kirang payus upami sasanggem téh dicagkeun dugi ka dieu. Angot nguping sasauran ti sesepuh calon pangantén pameget sakitu ngagebayna. Étang-étang kaul wé ieu mah, ngiring bingah ka nu badé panganténan.

Upami disebat katempuhan buntut maung mah panginten kirang merenah, nanging kamari mah ditataharkeun pikeun biantara nampi calon pangantén téh nya pun lanceuk pisan, Kang Among Suryabarata Kusumah. Nanging sabada diémut deui ku anjeunna, sok inggis ébat dina waktosna. Bilih dumadakan geumpeur, malum nembé pisan badé diajar janten mitoha. Kalih perkawis tos aya babadiamian ti anggalna, upami nu nyérénkeun pangantén katingalna jangkung badag, seja dilawanan ku nu langsip baé. Nya simkuring anu katempuhanana, da rumaos pangbegangna.

Hadirin anu dipihormat,

Simkuring asmana kulawarga Bapa Among, kantenan ngarasa bagja binarung reueus, réhna anu dianti-anti ti kamari, ditungguan ti mangkukna, ayeuna teu burung cunduk. Sumuhun, ari melangna mah nataku, bilih aleutan ti Kalimantan kumaha onam di jalan, mangkaning saurna lalampahan ti Samarinda ka Bandung téh dugi ka opat dinten opat wengi.

Néng Siti mah tos kantenan, guling-gasahan ti kamari kénéh. Bet ngimpleng nu lain-lain cenah, kumaha mun Jang Omad katiruk jajantung ku pramugari kapal cai, dugi ka bolay niatna. Énggal baé dibeberah, masing yakin cék simkuring téh, Jang Omad mah teu aya watek cunihin. Ayeuna mah, Nyai, geus teu jaman ngeleyed téh. Jaman bruk-brak, jaman jujur, henteu sumput salindung. Na ari gantawang téh pun lanceuk nyeukseukan, “Aéh-aéh, naha ceuk saha Akang cunihin, ceuk saha Akang ngeleyed?” kituna téh bari muril-muril kumis.

Sumuhun, seja nguningakeun baé, wiréh pun lanceuk mah ceplak pahang, upami sasauran téh tara didingding kelir. Nu mawi, titip baé ka Jang Omad, teu kénging soak upami engké Pa Among muncereng, da tos kitu pasipatanana. Teu kénging inggis ku kumis, da haténa mah sakitu léahna. Nanging, apan ayeuna mah sanés jaman Si Kabayan, tos kedah teu usum mitoha paséa sareng minantu téh. Sanés kitu, Kang Among? Sanés saurna téh.

Hadirin anu dipihormat,

Kantenan, kawitna mah Kang Among ogé teu kinten hélokna, basa uningaeun Néng Siti gaduh beubeureuh dina internét. Saurna téh: “Teu kaharti ari barudak ayeuna. Naon resepna bobogohan jeung nu teu puguh bungkeuleukanana, piraku rék ngagaléntoran aksara? Jeung nu ngajirim wé atuh Nyai, tuh aya Kang Dian, aya Cep Usman, Jang Dédé, ngan ulah wé ari jeung Ceu Éti mah.”

“Kang Omad téh nyaaheun pisan …” sanggem pun alo.

“Nyaaheun kumaha, tepung gé acan. Weléh teu kaharti ku kolot mah, sakalian wé atuh kawin téh jeung komputer.”

Ah, da kitu geuning pun lanceuk mah.

Nanging, saparantos panjonghok, geuning teu burung ngarepok. Reugreug simkuring téh, najan jodona urang Kalimantan, tapi apan enas-enasna mah apan masih kénéh urang Sunda. Masih kénéh maké basa Sunda. Masih kénéh ngamumulé budaya Sunda. Simkuring panuju pisan kana kasauran sesepuh calon pangantén pameget. Leres barudak téh digedékeun dina jaman anu tos béda, nu disebat modéren téa, nanging reueus naker upami masih émut ka titipan karuhun mah.

Hadirin anu dipihormat,

Pamaksadan Bapa Éméd téh geuning pertéla pisan. Nguping niat anu sakitu ihlasna, sageuy upami simkuring sareng pun lanceuk ngamomorékeun. Perkawis Jang Omad anu magar seueur kakirangan, ah, da apan jalma mah teu aya nu sampurna. Tong boroning barudak anu nembé badé diajar rumah-tangga, dalah anu tos puluhan taun, sapertos simkuring, ari pacogrégan mah sok aya baé. Sawangsulna Si Nyai, eukeur mah ogoan, katambah babarian, belikan, teu sabaran, Jang Omad gé langkung uninga panginten. Hapunten pisan upami Néng Siti kirang pangaweruh dina ngawulaan carogé. Nyanggakeun ka Jang Omad kanggo ngalelempengna.

Sumpingna kulawarga Jang Omad anu magar teu nyandak munding-munding acan, teu janten émutan pikeun simkuring mah. Sanaos tadi ku simkuring katingal aya nu nyandak soang dua jodo. Ku kasumpinganana gé, simkuring tos pirang-pirang ngahaturkeun nuhun.

Mugia sabada diwalimahan, Jang Omad sareng Néng Siti janten kulawarga anu runtut-raut sauyunan. Sing manjang laki-rabina, dipaparin putra anu soléh, geusan ngahontal kabagjaan dunya rawuh ahérat.

Sakitu nu kapihatur.

Billahi taufik walhidayah. Wassalamu’alaikum Wr. Wbr.
 
 
5.Assalamualaikum Wr. Wb.

Mukadimah

( Inalhamdalilah……./ Alhamdulilah Wasalatu Wasalamu…… )

Langkung tipayun puja urang sanggakeun kanu maha kawasa puji kanu maha suci, sukur kaaloh anu maha gofur anu masih keneh ngusik malikeun awak sakujur, tug dugika kiwari masih keneh masihan jatah umur, ngan omat eta umur ulah rek dihambur-hambur komo mah dipake ujug ria jeung takaburbisi urang kagolongkeun kajalma anu kufur anggur mah yu urang seueurkeun sukur anu malah mandar jaga di alam kubur kengeng pangampura ti aloh anu maha punjul amin ...........
Oge sholawat miwah kasalametan mugia dilimpahcurahkeun digulunturkeun ngocor tur ngagolontor, ngalir tur ngamalir kajungjunan urang sadayana nyatanya ka kangjeng nabi muhamad SAW. Ka para kulawargana, ka para sahabatna, ka para tabi’it-tabi’itna, anu malah mandar tug dugi kaumatna nyatanya urang sadayana, anu mikaconto tur nulad kana tapak lacak mantena ti kawit dugika ahir.

Dina leresan ieu sim abdi ngahaturkeun nuhun kapangatur waktu panata acara anu ku simkuring dipihormat ka dewan juri anu dipiati kaibu guru miwah bapa guru anu di tungu-tungu oge karerencangan simkuring anu masih keneh calik di bangku SD anu sararae tur harade, Dina danget ieu sim abdi anu teu disangki-sangki tiasa ngadeg di payuneun para wargi, turta tiasa cumarita di payuneun para ibu miwah para bapa, sanes bae ku tiasa jeung biasa sim abdi ngiring lomba, ngan sim abdi hoyong tiasa nyarita ku basa sunda dina ngadugikeun biantara.
Tangtosna tatar pasundan anu endah taya duana dibarengan ngajadikeun urang betah cicing didinya di lembur matuh banjar karang pamidangan tempat ngiuhan tina hujan, tempat niis lamun burang reureuh ngampih lamun peuting, cai wahangan cur-cor tina sungapan maseuhan sawah numuwuhkeun pare nu bisa kapetik hasilna kaala buahna,
Tuh pan lamun tea mah lembur ku urang tetep dijaga kaendahana teu di ruksak ku leungeun-leungeun sarakah nu matak jadi teu endah, cobi tinggal di kota-kota tos sesah mendakan sawah, tos jarang aya pancuran. Tos dibangun mol pangbalanjaan anu megah nepika teu merhatikeun bahayana,
Mangpangmeungpeun hirup di lembur anu ,asih keneh asri kuring mah hayang jaga tetep kieu rangkongna sora bangkong, reangna sora jangrik jeung recetna sora tongeret mapag sareupna wanci kaburitnakeun. Kaendahan tangtu lana mun jalma sadar nyaah jeung miarana enya-enya teu jorok ka lembur sorangan, miceun runtah dina tempatna, kai teu dituar sangeunahna ahirna alam mere akibatna.
Mangpangmeungpeun hirup ayeuna yu urang jaga lembur pamatuhan, nu endah taya papadana ku urang keur urang anu urang.
Sakitu anu kapihatur nanging sateuacana sim kuring gaduh sisindiran

Ngalamun mubuy bakakak
Mawa dahan tina tulang
Mun lembur tuluy di ruksak
Musibah datang, kaendahan oge ilang

Mung sakitu anu kapihatur,sateuacan amit mungkur nyuhunkeun dihapunten boh bilih aya kalepatan sareng kakirangan bobot pangayon timang taraju aya di para ibu, jembar hampura anu diteda aya di para bapa, titi surti sarta ngarti aya di dewan juri.

Ditutup ku du’a Ragi sabeulah di banjar diremetkeun duanana
Pamugi aloh ngaganjar nyalamekeun sadaya
Wabilahi taufik wal hidayah, warido wal inayah
Wassalamualaikum Wr. Wb.